Modernisasi Industri Pascapanen - Selamatkan Hasil dan Merebut Margin Hasil Pertanian

21 January 2014

Modernisasi Industri Pascapanen

Tingkatkan produktivitas pada proses budidaya (hulu), mengamankan kualitas dan kuantitas pada produk akhir (hilir) adalah satu kesatuan dalam Industri Perberasan. Hanya demikianlah, kita akan bisa meraih yang namanya “Peningkatan Pendapatan”, kemudian tercapai kesejahteraan kehidupan keluarga petani.

Mencapai target hasil pertanian, tidak hanya ditentukan oleh perlakuan dan metode budidaya yang baik. Perlakuan pada proses panen dan pascapanen juga sangat menentukan keberhasilan di dalam Agribisnis Perberasan karena besarnya kehilangan hasil atau susut pada proses panen dan pascapanen, bisa menyebabkan usaha pertanian ini mengalami kerugian. Apalagi, musim panen yang jatuh pada musim hujan memberikan tantangan tersendiri dalam proses pascapanen (panen – pengeringan – penyimpanan – penggilingan – packing produk akhir), permasalahan ini sudah diidentifikasi oleh Pemerintah, maka salah satu program revitalisasi pertanian adalah “Modernisasi Industri Pascapanen”.

“Petani kita diminta tanam apa saja pasti jadi dan berhasil, akan tetapi bisa nggak mereka merebut Margin Pertanian? Kalau mereka hanya menghasilkan beras yang compang-camping dan tidak bermutu dari Huller/pabrik beras yang sudah usang (out of date) dan tidak me menuhi syarat “Skala Industri” dan “Skala Ekonomis“, sehingga di masyarakat industri perberasan Indonesia ada istilah, ada banyak sekali Huller yang hidup segan - mati tak mau,” kata Mohamach Abdoula, Direktur PT Vietindo Jaya, perusahaan trading di bidang pertanian antara Indonesia dan Vietnam.

Raih Margin

Dampak positif dari Modernisasi Industri Pascapanen yang terpampang nyata adalah menurunnya persentase penyusutan. Jika panen dan proses pengolahan seperti selama puluhan tahun ini, menyebabkan persentase penyusutan sampai 10% atau 15%, maka dengan upaya mekanisasi dan Modernisasi Industri Pascapanen yang baik dan tepat guna dapat menurunkan penyusutan sekitar 5%. Mohamach mencontohkan, “Jika kita bisa saving 3%-nya saja, kita sudah menghemat sekitar 2,1 juta ton GKG (gabah kering giling), berarti ekuivalen dengan 1,2 juta ton beras. Apalagi kalau kita bisa kurangi sampai 5%, maka kita tidak akan impor beras lagi,” cetus Mohamach bersemangat.

Kuantitas diraih, kualitas pun terjamin. Kedua poin ini menjadi kunci peningkatan pendapatan petani. Proses pengolahan gabah menjadi beras, menurut Mohamach, merupakan tahapan yang memungkinkan petani bisa mendapatkan margin pertanian yang lebih besar.

“Dengan alat pemanen sekadar dan mesin pengolahan yang diwariskan dari zaman kakek/neneknya, pada umumnya petani hanya bisa menghasilkan kualitas beras yang nilai jualnya Rp5.000 - Rp6.000/kg, tetapi ada pabrik-pabrik beras modern bisa menghasilkan beras berkualitas baik dengan nilai jual Rp8.000 – Rp10.000 per kg, padahal hasil produk akhir itu berasal dari gabah yang sama yang dikerjakan oleh kelompok petani. Di situ lah yang namanya upaya “Merebut Margin Pertanian,” tegas pria kelahiran Saigon, Vietnam ini.

Dukungan Infrastruktur, Mekanisasi dan Industri Down Stream

Infrastruktur Pertanian khususnya jaringan listrik dan tersedianya daya listrik yang memadai sangatlah penting untuk pengembangan Modernisasi, karena komponen listrik juga adalah salah satu faktor efisiensi dan keberhasilan dari seluruh upaya Modernisasi Industri Pascapanen. Oleh karena itu komitmen dan keseriusan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dalam hal ini sangatlah penting untuk keberhasilan upaya Modernisasi dan pembangunan ekonomi pedesaan.

”Jika proses Modernisasi Industri Pascapanen terlaksana dengan baik dan benar, maka akan muncul Dinamika Industri Perberasan di tingkat pedesaan, listrik masuk desa, perputaran ekonomi beras akan ada di desa-desa, kecamatan-kecamatan sampai tingkat Kabupaten/Provinsi. Upaya ini pasti akan mencapai keberhasilan Pembangunan Ekonomi Pedesaan dan juga dapat mengerem arus urbanisasi tenaga kerja muda ke kota. Oleh karena itu upaya Modernisasi Industri Pascapanen menjadi kuncinya,” terang Mohamach.

Pada keseluruhan proses pascapanen yang perlu diperhatikan adalah mulai proses panen – perontokan dengan mekanisasi (Paddy Thresher atau Combine Harvester) – pengeringan gabah dengan menggunakan energi terbarukan dari pembakaran sekam (Husk Furnace In-Direct Dryer System) – penyimpanan gabah kering dengan curah (Indoor Storage Bins) – penggilingan modern (Professional Compact Rice Mill) adalah kesatuan proses pengolahan yang terintegrasi, dan dapat dikelola secara Manajerial Pertanian Modern dengan menggunakan Teknologi Informatika.

Umumnya, beras yang dihasilkan dari Industri Pascapanen Modern adalah Beras Medium dan Beras Premium. Mesin pengolahan pascapanen seperti BuiVanNgo, Vietnam yang telah digunakan di lebih dari 10 negara bisa memenuhi kebutuhan industri pascapanen yang efisien dan tepat guna. Teknologi mesin pengolahan dari Vietnam ini terdiri dari mesin pengering berkapasitas 20 – 1.000 ton GKP/hari, mesin penggilingan padi modern berkapasitas 1 – 46 ton GKG/jam, sistem penyimpanan GKG secara curah (Indoor Storage Bins) berkapasitas 100 – 10.000 ton, hingga mesin paling mutakhir dalam keseluruhan proses pengolahan padi/beras adalah mesin Color Sorter.

Satu lagi yang menurut pria blasteran Jawa – Vietnam ini harus dikembangkan adalah dari by product penggilingan. “Sekam yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk Pembangkit Listrik (Biomassa atau Husk Power Plant). Bekatul yang dapat diproses menjadi Minyak Bekatul (Rice Bran Oil), lalu ada beras patahan kecil atau beras afkir bisa diolah menjadi Tepung Beras dan Mi Beras. Mi beras ini bisa dijual dengan harga Rp20 ribu/kg. Untung sekali, ‘kan? Industri hilir ini juga yang harus diperhatikan,” sarannya.